Wisata Religi Bersama Manjoyo Family

Pandemi memang belum usai. Tapi gak ada salahnya kan melipir sejenak dari rutinitas sehari-hari yang menguras energi. Asal tetap selalu menerapkan protokol kesehatan menurutku juga gak bakal jadi soal. Kalian bisa mencoba wisata berikut ini, namanya wisata religi. Ada yang sudah pernah atau malah belum sama sekali nih? Bedanya dari wisata pada umumnya, wisata yang satu ini mengajak kita untuk berziarah ke makam para wali.

Ziarah sendiri merupakan sunnah Rasululloh SAW yang dianjurkan karena sangat bermanfaat . Salah satu manfaat dari ziarah kubur adalah, kita bisa mengambil hikmah dan pelajaran serta akan selalu mengingatkan kita kepada alam akhirat. Bahwa sesungguhnya yang namanya kematian itu suatu saat pasti akan tiba, dan segala amal perbuatan kita selama di alam dunia ini akan dipertanggungjawabkan di hadapan Alloh SWT.

Ziarah ke Makam Para Wali dan Alim Ulama

Sampai juga pada hari yang ditunggu yaitu sabtu, 12 September 2020, aku bersama rombongan keluarga Manjoyo berangkat berziarah ke beberapa makam para alim ulama di berbagai daerah, dimulai dari Magelang, Klaten hingga Yogyakarta. Buat yang nanya siapa itu Manjoyo. Manjoyo ialah nama dari almarhum simbah kakungku.

Sebetulnya pagi itu aku diliputi rasa bimbang, antara jadi mau ikut apa gak. Soalnya waktu itu bapak dalam kondisi sakit. Kasihan kan kalau ditinggal di rumah sendirian dan gak ada yang nemenin? Tetapi karena bapak bilang gak apa-apa, akhirnya aku ikut berangkat bersama simbok beserta kedua saudaraku.

Pagi itu sesuai jam yang telah disepakati, kami berempat pun bergegas menuju titik kumpul. Namun karena lumayan jauh, walhasil aku pun memilih untuk menunggu di perempatan desa bersama dua saudaraku. Sementara itu ibukku sudah dibonceng motor jemputan sampai ke titik kumpul.

Bus pariwisata yang ditunggu akhirnya bergerak menghampiri kami bertiga. Pintu bus pun terbuka. Segera kami naik dan mencari tempat duduk yang masih kosong. Nampak di deretan kursi bagian depan diisi oleh para orang tua, termasuk pengasuh Madrasah Diniyah, Dusun Gemblongan; Mbah Kyai Jaizun yang akan mendampingi rombongan kami selama berziarah.

Adapun di bagian tengah didominasi bapak-bapak paruh baya, dan beberapa lelaki yang masih cukup muda muda. Aku pun memilih duduk di antara mereka, tepatnya di samping sepupuku; Mbak Nurjanah. Sembari duduk aku berbisik ke suaminya yang berada di kursi belakang, "sakjane sampeyan sing njagong kene, mas,"

"Ra popo, wis suwe to ra dadi siji (karo) Mbak Nhanah?" sahutnya santai.

Sementara itu di deretan kursi belakang adalah yang paling ramai dan heboh karena dihuni oleh sepupu dan keponakanku para "girl squad".

Kayaknya sudah komplit semua dan gak ada yng ketinggalan. Perlahan bus yang membawa rombongan kami pun bergerak dan meluncur menuju destinasi wisata religi yang pertama.

Makam Kyai Krapyak 1 Gunungpring

Tempat wisata religi yang menjadi tujuan pertama berada di daerah Santren, Gunungpring, Muntilan. Di sana kami berziarah di makam Kyai Krapyak 1 yang berada di kompleks pemakaman belakang Masjid Agung Kyai Krapyak 1, sebuah masjid yang konon telah berusia lebih dari 300 tahun. Kyai Krapyak 1 sendiri ialah seorang tokoh alim ulama yang sangat berpengaruh dalam menyebarkan agama Islam di daerah Santren, Gunungpring, Muntilan pada awal masa berdirinya kerajaan Mataram Islam.

Pagi itu hanya nampak beberepa peziarah di sana. Tenang, sebelum berziarah kami juga mengawali dengan cuci tangan sekaligus berwudlu terlebih dulu dan tidak lupa menjaga tata tertib serta selalu mengenakan masker.

Makam Ki Ageng Pandanaran

Usai berziarah ke Makam Kyai Krapyak 1, kami pun berpindah ke tempat selanjutnya yang letaknya cukup jauh dari lokasi sebelumnya. Tempat wisata religi berikutnya berada di daerah Paseban, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten. Di sanalah terdapat makam Sunan Bayat atau Ki Ageng Pandanaran, salah satu wali penyebar agama Islam di wilayah Tembayat pada masa zaman Kerajaan Demak.

Klompeks pemakaman Sunan Bayat yang merupakan murid dari Sunan kalijaga ini berada di sebuah bukit bernama Jabalkat. Penuh perjuangan sekali untuk mencapai ke puncak karena para peziarah harus menaiki ratusan anak tangga agar bisa sampai ke atas. Namun bagi orang tua atau yang tidak kuat berjalan bisa memilih naik ojek sampai ke atas.

Sebelum masuk ke area pemakaman setiap pengunjung diminta untuk menanggalkan alas kaki dan dititipkan ke tempat yang sudah disediakan. Selama masa pandemi ini, ada pula petugas yang selalu berjaga di depan pintu masuk. Selain mengecek suhu badan, penjaga juga akan mengingatkan para pengunjung agar selalu mengenakan masker.

Makam Syekh Belabelu

Sembari menikmati makan siang, bus pun perlahan membawa rombongan menuju tempat selanjutnya. Namun sebelum sampai lokasi, kami berhenti sebentar untuk melaksanakan sholat dzuhur secara berjamah di Masjid Al-Muttaqun yang berlokasi dekat dengan Candi Prambanan.

Hawa-hawa pantai sudah terasa begitu kami tiba di tujuan, karena memang tempat yang kami singgahi ini berada tak jauh dari Pantai Parangtritis. Sama seperti di pemakaman Ki Ageng Pandanaran tadi, kami harus berjalan menapaki ratusan anak tangga untuk sampai ke kompleks pemakaman Syekh Belabelu yang juga merupakan murid dari Sunan Kalijaga itu. Namun bedanya di sini samasekali gak ada angkutan ojek yang bisa mengantar peziarah sampai ke atas. Hanya mendaki jalan satu-satunya. Tapi begitu sampai di atas bukit yang disebut Bukit Banteng itu lelah kami terbayar dengan suguhan pemandangan yang begitu indah. Dari atas sana, kami juga bisa menyaksikan ombak pantai laut selatan yang menggulung dari kejauhan. Ia seakan melambai memanggil kami untuk datang mendekat.

Mampir ke Pantai Parangtrtis

Benar saja, usai singgah di Makam Syekh Belabelu, kami pun dibawa ke sana. Tak butuh waktu lama, bus kami pun sudah berhenti di area parkir Pantai Parangtrtis. Karena gak tahu kalau bakal ada agenda ke pantai, dari rumah aku gak bawa baju ganti. Pakaian satu-satunya yang kubawa cuma yang nempel di badan doang.

Di tengah asiknya menikmati angin pantai yang sepoi-sepoi di kala senja, eh, diajak naik jeep! Ya pasti maulah. Kapan lagi kan naik jeep rame-rame? Apalagi ditraktir lagi. Hehehe.

Kalau gak salah ingat sih untuk menikmati wisata jeep di Pantai Parangtritis ini para pengunjung harus merogoh kocek mulai dari 450 ribu rupiah, tergantung rutenya ke mana saja dan durasinya berapa lama. Pokoknya yang jelas, harga tersebut untuk menyewa satu mobil jeep yang bisa buat rombongan berlima (6 orang termasuk sopir). Kita akan dibawa mengelilingi pantai dan ke beberapa titik pemberhentian. Nanti kita juga bisa meminta sang sopir untuk mengabadikan lewat jepretan kamera sewaktu naik jeep sambil bergaya. Contohnya kayak foto di bawah ini nih:

Lihat postingan ini di Instagram

Detik-detik sebelum jeep merah dihantam ombak! 😱😱

Sebuah kiriman dibagikan oleh Achmad Muttohar (@kokoh_achmad) pada


Nah, kalau yang ini beberapa detik sesaat sebelum jeep merah dihempas sang ombak hingga mobil bergoyang. Air laut yang sebelumnya tenang tiba-tiba datang menghampiri tanpa permisi. Sontak membuat kami semua kaget dan sedikit panik. Khawatir ombak akan menyeret jeep yang kami tumpangi. Bagaimana gak coba, ombaknya saja stinggi body jeep. Namun, syukur alhamdulillah apa yang kami khawatirkan gak terjadi. Hanya saja para penumpang jeep merah basah kuyup oleh air laut.

Selain berfoto dan bermain-main di bibir pantai, gak ada ruginya lho menjajal wahana wisata jeep offroad ini bersama teman maupun keluarga. Atau mau melakukan kegiatan yang gak kalah seru lainnya? Bisa banget dong. Kalian bisa naik delman keliling Parangtritis atau mencoba serunya menggilas pasir pantai dengan ATV.

Beli Oleh-oleh di Malioboro

Setelah puas bermain di pantai, petang itu pun kami bebersih diri dan menyudahi kunjungan kami ke Parangtritis, lalu bersiap menuju ke tempat berikutnya yaitu Malioboro. Tapi karena badan sudah agak capek, sebagian memilih untuk tetap tinggal di parkiran bus sambil menunggu yang lain berbelanja oleh-oleh, termasuk aku.

Ternyata masih ada satu tempat lagi setelah Malioboro yang dikunjungi, namanya Taman Pelangi. Karena disana aku gak ikutan turun dari bus jadinya gak tahu deh tempatnya seperti apa. Namanya juga sudah ngantuk mau gimana lagi. Malam itu tepat dini hari, kami pun sampai kembali ke rumah dengan selamat tanpa kurang suatu apapun.

Gak lupa aku ucapkan banyak terima kasih sama Gembus Pojok, Rizki Kayu, dan Laundry Mimose yang sudah mendukung hingga terselenggaranya acara ziarah bersama keluarga Manjoyo kali ini. Mudah-mudahan usahanya makin berkembang, makin sukses, dan jaya selalu. Juga buat kelurga Manjoyo di manapun berada, semoga panjang usia, sehat sentosa, tetap bahagia, dilimpahkan rezekinya, dan selalu dalam lindunganNya. Aamin.

Wisata Religi Bersama Manjoyo Family Wisata Religi Bersama Manjoyo Family Reviewed by Achmad Muttohar on 08.00 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.