(Review) Novel Bulan Merah, Kisah Para Pembawa Pesan Rahasia



Suatu ketika seorang kakek berkisah kepada cucunya, Bre, tentang sebuah kelompok musik keroncong Bulan Merah semasa perang kemerdekaan. Bulan Merah bukanlah sebuah kelompok musik keroncong biasa, karena pertunjukannya selalu digelar secara tiba-tiba. Penontonnya pun bukan penonton biasa, melainkan para pembawa pesan rahasia.

Bulan Merah lahir dari rahim Bumi dan Siti, dua kakak beradik. Sejak kecil mereka diasuh oleh pamannya bernama Rawi. Bumi dan Siti adalah anak dari seorang pembawa pesan rahasia bernama Said. Mereka menjadi yatim piatu setelah ayah dan ibu mereka dibunuh setelah aksi mereka diketahui oleh patroli kolonial Belanda. Dari pamannya inilah mereka mewarisi musik keroncong. Sepeninggal Rawi, mereka pun mendirikan Bulan Merah untuk melanjutkan perjuangan ayah mereka sebagai pembawa pesan perjuangan. Mereka dibantu oleh Ratna Melati, biduan musik keroncong milik Rawi dulu. Para pemain musik keroncong pun dikumpulkan. Akhirnya terkumpullah tujuh orang pemain. Sumo dan Sastro masing-masing sebagai pemain selo dan kontrabas. Kusno pada gitar. Karman yang meniup flute. Priambodo, pemetik ukulele cak. Ku Chen menggesek biola. Ramas Suryo dan Siti sebagai biduan. Bumi memainkan ukulele cuk.

Bulan Merah pun memulai aksinya sebagai pembawa pesan perjuangan. Mereka bergerak secara cepat dan tersembunyi karena mereka harus menghindari patroli pasukan Belanda. Hingga pergerakan mereka sangat rahasia dan hanya sedikit orang yang mengetahui. Dan setiap orang pasti akan mencibir bahwa kelompok musik keroncong Bulan Merah hanyalah sebuah mitos. Bulan Merah tak ubahnya omong kosong. Keberadaanya tak lebih dari sebuah misteri karena tak semua orang pernah menyaksikan pertunjukannya. Sejarah juga tak sempat mencatat perjuangannya.

Bulan Merah menyampaikan pesan melalui lagu yang mereka gubah sendiri saat pertunjukan kepada para pembawa pesan yang hadir. Melalui lirik-lirik lagu yang telah disisipkan pesan rahasia didalamnya. Pentas bulan Merah dibuka dengan lagu Bulan Menjapa Kawan dan puncaknya adalah pesan yang telah disematkan pada lagu Krontjong Padang Boelan.

Para personil Bulan Merah sempat tertangkap saat pertunjukan di Batavia, karena sebelumnya pergerakan mereka berhasil diketahui oleh patroli Belanda. Namun mereka akhirnya dibebaskan karena pihak kolonial Belanda tidak menemukan bukti keterlibatan Bulan Merah dengan pergerakan perjuangan yang membahayakan pemerintah kolonial.

Setelah kejadian tertangkapnya Bulan Merah di Batavia, mereka lalu memutuskan untuk berpindah dari markas lama mereka di Semarang ke Boyolali. Dan mereka pun bergerak lebih hati-hati lagi hingga Bulan Merah semakin tak bisa diduga keberadaanya. Mitos yang sebelumnya melekat atas keberadaan Bulan Merah yang tak bisa ditentukan pun kian melekat. Hingga pada akhirnya kemerdekaan Indonesia pun dikumandangkan.





Nah, kurang lebih seperti itulah kisah dalam buku Bulan Merah karya penulis Magelang, Mas Ginanjar Teguh Iman. Saya mendapat kesempatan membaca buku Bulan Merah secara cuma-cuma setelah mengikuti Bulan Merah Keliling Nusantara. Semula saya tidak berniat untuk ikutan, namun karena Mas Gin meminta, saya pun mengiyakan. Salah satu alasannya kenapa saya tidak mau ikut karena saya belum pernah mereview buku sebelumnya. Hihi. Karena salah satu syaratnya harus mereview buku tersebut. Baiklah saya sudah membaca buku yang sangat bagus ini, maka saatnya saya menuliskan review buku Bulan Merah di blog ini. Tak lupa juga saya ucapkan terimakasih kepada Mas Gin.

Kisah yang disajikan dalam buku Bulan Merah ini sangat menarik, membuat saya ingin segera membaca buku ini hingga habis. Ceritanya benar-benar unik, alurnya maju-mundur yang diawali oleh seorang kakek yang sedang berkisah kepada cucunya, Bre.

Pengetahuan penulis juga sangat luas mengenai keroncong. Melalui novel setebal 256 halaman ini kita juga bisa belajar dan menambah pengetahuan kita tentang alat-alat musik keroncong. Mas Gin mampu menguraikan fungsi dari masing-masing alat musik keroncong dengan baik seperti ukulele cak dan cuk, biola, selo, kontrabas, hingga fluite.

Novel yang berbeda karena menyuguhkan sepenggal cerita tentang sebuah perjuangan yang tidak hanya bisa dilakukan dengan mengangkat senjata, namun dengan cara lain. Salah satunya dengan menjadi pembawa pesan rahasia. Dengan dibumbui sedikit kisah cinta didalamnya.

Buku ini ditulis dengan sangat rapi dan tanpa ada kesalahan penulisan atau typo. Ditulis diatas kertas coklat dengan pilihan font dan jarak spasi yang pas sehingga nyaman dimata.

Dalam novel ini selain tempat kelahiran penulis, yakni Magelang, Mas Gin juga menyisipkan nama tempat-tempat di Magelang yang lainnya sebagai setting novelnya seperti Wonolelo dan Sawangan. Bagi saya dan mungkin pembaca yang asli Magelang akan sangat terkesan.

Yah, mungkin inilah sedikit review saya tentang novel Bulan Merah.

Judul Buku : BULAN MERAH
Penulis : Gin
Editor : Indradya SP
Penerbit : Qanita (Mizan Group)
Tahun Terbit : 2014
ISBN : 978-602-1637-33-3
Spesifikasi : 256 Hal; Bookpaper
Harga : IDR 49K
(Review) Novel Bulan Merah, Kisah Para Pembawa Pesan Rahasia (Review) Novel Bulan Merah, Kisah Para Pembawa Pesan Rahasia Reviewed by Achmad Muttohar on 13.41 Rating: 5

11 komentar:

  1. waah menarik. jarang-jarang yah novel membahas tentang musik keroncong dan alat-alat musiknya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, mas. Kalo mas lagi jalan ke toko buku atau kemana dan liat buku ini, langsung saja ambil dan bawa ke kasir. Hehe. *promo*

      Hapus
  2. Novelnya unik nih! Padahal udah beberapa kali liat novel ini di etalase toko buku, tapi gak pernah beli heuheu. Kapan-kapan deh beli kalo ke tokbuk lagi :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo kapan2 liat lagi langsung ambil aja, kak. Bukunya keren kok. ;)

      Hapus
  3. Review-nya agak spoiler, ya. Setelah membaca review ini, aku jadi bisa membayangkan gimana ending-nya. But anyway, setting zaman Belanda di novel ini bikin penasaran.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihi, iya, kak. Baru tahu juga kalo review buku ndak boleh terlalu spoiler. Makasih, kak. :)

      Hapus
  4. Menarik. Setting zaman kemerdekaan ya. Eh, tp ada ga hubungannya dengan Lentera Merah?

    BalasHapus
  5. bagus keliatannya belum baca soalnya nih novel

    BalasHapus
    Balasan
    1. Harus baca biar gak penasaran. Hehe.

      Hapus

Silakan berkomentar sesuka kamu asal relevan dengan isi postingan, dan tunggu kedatanganku di hatimu, eh blog kamu. :)

Maaf link aktif akan langsung saya hapus.

Diberdayakan oleh Blogger.