Famtrip Musi & Beyond 2020 Palembang Hari Terakhir

Palembang gak hanya pempek doang loh. Jika ditelusuri lebih jauh Palembang punya segudang kuliner yang tak kalah lezat nan memikat lainnya. Pokoknya kalau ke sana wajib deh berburu kuliner lokal khas daerah Palembang lainnya kayak mie celor, tekwan, model, celimpungan, dan masih banyak lainnya yang pastinya nikmat tiada tara.

Dari beberapa makanan yang aku sebutkan di atas ada beberapa yang baru banget aku tahu dan dengar namanya. Bahkan ada pula yang sampai bikin aku jatuh cinta pada suapan pertama. Alhamdulillah aku berkesempatan mencicipi kuliner tersebut secara langsung sewaktu mengikuti Famtrip Musi & Beyond 2020 di Palembang beberapa waktu yang lewat.

Ya, tepat di bulan Februari lalu beruntung banget aku mendapat undangan dari Pemerintah Kota Palembang  melalui Dinas Pariwisata Kota Palembang buat menelusuri lebih jauh destinasi wisata di salah satu kota di Provinsi Sumatra Selatan tersebut. Selain bertandang ke berbagai destinasi wisata unggulan di sana, gak ketinggalan juga buat icip-icip berbagai hidangan khasnya juga dong.

Pokoknya selama 3 hari, aku dan peserta lainnya yang terdiri dari blogger, vlogger, influencer, dan content creator dari berbagai daerah di Indonesia dan Malaysia diajak buat seru-seruan mengeksplore keindahan setiap sudut Kota Palembang dan menikmati setiap kelezatan kulinernya.

Di hari pertama para peserta langsung disuguhi pempek Palembang yang uenak banget, lalu hari berikutnya kami diajak menelusuri jejak peninggalan Kerajaan Sriwijaya dan Kesultanan Palembang Darussalam hingga merasakan suasana kemeriahan Cap Go Meh. Ada yang bisa menebak gak kira-kira di hari ketiga ini kami bakal diajak ke mana lagi? Makanya baca sampai selesai ya kalau mau tahu hehehe. #maksa

Museum Al-Qur'an Al Akbar


Seperti hari-hari sebelumnya, setelah mandi dan sarapan pagi, rombongan kami pun dibawa menaiki bus pariwisata menuju salah satu destinasi wisata religi  yang menjadi ikon pariwisata Kota Palembang yaitu Al-Qur'an Al Akbar. Seperti namanya, Al-Qur'an Al Akbar ini merupakan Al-Qur'an raksasa pertama yang telah dinobatkan sebagai Al-Quran terbesar di dunia.

Tempat wisata religi ini terletak di komplek pondok pesantren modern IGM Al-Ihsaniyan, Kelurahan Gandus, Palembang. Sebelum masuk ke dalam kita diwajibkan buat menanggalkan alas kaki dan mengenakan pakaian yang sopan. Tetapi jika kebetulan kamu tidak memakai celana panjang, kamu bisa kok meminjam sarung yang telah disediakan.

Begitu masuk, kami langsung disuguhi kopi hitam Palembang. Kopinya enak banget. Setelah itu kami pun duduk manis mendengarkan penjelasan mengenai Museum Al-Qur'an Al Akbar itu dari seorang bapak-bapak pemandu dari tempat wisata tersebut.

Bayt Al-Qur'an Al Akbar ini dibuat oleh pengasuh pondok pesantren Al-Ihsaniyah yaitu Ustadz Syofwatillah dengan ukiran dan ornamen khas Palembang di atas media kayu tembesu. Seluruhnya terdapat 30 juz dan terdiri dari 360 halaman lengkap dengan tajwid dan do'a khatam Al-Qur'an. Proses pengerjaannya sendiri memakan waktu sekitar 10 tahun. Sebelum resmi dipublikasikan ukiran-ukiran Al-Qur'an ini terlebih dahulu dipajang di Masjid Agung Palembang agar mendapat koreksi dari para ulama dan umat. Supaya benar-benar tidak ada kesalahan sama sekali.

Siapa pun yang datang kesini pasti akan berdecak kagum melihat ukiran Al-Qur'an raksasa ini di depan mata kepala sendiri, apalagi bisa menyentuh langsung maha karya yang begitu indah ini. Ukirannya begitu rapi karena dibuat oleh tangan terampil dengan sepenuh hati.

Kalau ke sana kalian juga bisa membeli produk-produk buatan pondok pesantren Al-Ihsaniyah berupa kopi Lahat, minyak safron, air mineral yang mengandung do'a, dan minyak wangi. Kalau kamu beli salah satu oleh-oleh di sana, kamu juga bakal sekaligus berinfaq karena 50% keuntungannya akan diberikan kepada kaum dhuafa dan pesantren yatim piatu.

Ngidang, Makan Besar Ala Palembang di Rumah Limas Aziz

Rumah Limas Aziz

Menuju lantai 2

Setelah puas berkeliling Museum Al-Qur'an Al Akbar yang luas banget itu, kami pun kembali melanjutkan perjalanan. Tujuan kami selanjutnya adalah rumah adat Sumatra Selatan yaitu Rumah Limas. Selain melongok isi dalam rumah limas, kami juga diajak menikmati makan ala Palembang.

Bangunan megah yang nampak terawat dengan baik ini bernama Rumah Limas Aziz yang diambil dari nama pemiliknya yaitu Kemas H. Abdul Aziz Hamid. Letaknya berada di Jl. Demang Lebar Daun No. 51, Palembang. Sebelum bisa dikunjungi oleh wisatawan, sebetulnya rumah ini dulunya hanya difungsikan sebagai tempat berkumpul bersama keluarga besar saja. Namun seiring bergulirnya waktu rumah tradisional ini pun dibuka untuk umum. Tujuannya supaya warisan budaya tersebut agar tidak dilupakan begitu saja oleh generasi sekarang maupun yang akan datang. Tempat ini juga sering disewakan buat acara pesta dan pernikahan. Meskipun dari depan nampak tidak terlalu besar, tetapi di dalam cukup loh buat menampung 1500 orang.

Setelah turun dari bus, rombongan kami pun naik ke lantai 2 dan melihat-lihat seluruh interior ruangannya yang tak kalah apik dari sisi luarnya. Bagian dalam rumah limas ini memiliki warna khas Sumatra Selatan yakni merah manggis dan keemasan. Sudah pasti interior khas Palembang menghiasi setiap sudut ruangannya. Oh ya meskipun lantainya terbuat dari kayu namun sangat bersih dan mengkilap sehingga kami harus melepas sepatu sebelum masuk ke dalam.

Rumah limas ini sangat unik karena mengandung filosofi. Setiap rumah limas pasti memiliki beberapa undakan, dan setiap undakan memiliki makna dan fungsinya tersendiri. Di bagian pertama terpajang beberapa souvenir dan camilan khas Palembang yang bisa kita bawa pulang sebagai oleh-oleh.

Undakan kedua merupakan ruang tamu. Di sana terdapat meja-kursi, lemari dan hiasan-hiasan dinding. Kamar yang saling berhadap-hadapan berada di undakan ketiga. Dan undakan keempat atau terakhir merupakan ruangan yang cukup luas dan biasanya difungsikan sebagai ruang serbaguna. Di sana dipajang pula kain khas Palembang seperti songket dan jumputan.

Di Rumah Limas Aziz ini kita juga bisa menyewa pakaian adat lengkap dengan dandanan dan aksesoris, khususnya buat yang cewek-cewek nih. Siapkan dulu uang 150 ribu rupiah ya jika kamu mau bergaya ala putri Palembang hehehe.

Ngidang - Makan Besar Ala Palembang.

Selepas menunaikan ibadah sholat jum'at kami pun balik lagi ke Rumah Limas Aziz. Nah, ini dia nih yang ditunggu-tunggu, makan siang spesial. Yang membuat makan siang kami berbeda yaitu ngidang. Ngidang adalah istilah makan besar secara bersama-sama ala Palembang. Langsung saja kami dibagi menjadi beberapa kelompok dan duduk lesehan melingkari makanan yang telah disajikan di hadapan kami.

Makan siang kali ini begitu melimpah berupa nasi minyak dan nasi putih lengkap dengan lauknya yang beraneka ragam mulai dari gulai kambing, gulai sapi, pentul ayam, tempoyak udang, gulai buncis, ayam kecap, acar nanas lengkap dengan sambal nanas dan mangga serta manisan gandaria dan duku Palembang. Semua terlihat lezat dan benar-benar menggoda.

Meskipun makan bersama di satu nampan, namun kami makan di piring masing-masing. Makannya dengan tangan alias lima jari lagi. Pokoknya bikin makan jadi tambah nikmat banget deh. Nasi minyak ini nih yang bikin aku jatuh cinta pada suapan pertama. Pengin nambah lagi dan lagi.

Kalau kepengin merasakan makan besar bareng-bareng alias ngidang kayak gini setidaknya kamu harus booking beberapa hari sebelumnya terlebih dulu dan siapkan uang 150 ribu/orang ya.

Museum Balaputradewa

Rumah Limas

Destinasi wisata selanjutnya adalah Museum Balaputradewa yang terletak di Jl. Srijaya No. 28, Palembang. Museum ini menyimpan berbagai macam koleksi dari zaman prasejarah, Kerajaan Sriwijaya, Kesultanan Palembang Darussalam hingga zaman Kolonialisme Belanda. Nggak tanggung-tanggung koleksinya mencapai ribuan loh.

Untuk masuk ke dalam kita dikenakan bea masuk 2 ribu rupiah untuk orang dewasa dan seribu rupiah untuk anak-anak. Tempat ini cocok banget nih buat yang mau belajar sejarah tentang Palembang.

Selain bisa menyaksikan benda-benda bersejarah, di sana kita juga bisa melihat Rumah Limas yang berada di uang pecahan 10 ribu rupiah. Rumah adat Sumatra Selatan ini bisa ditemui di bagian belakang museum. Kita juga bisa masuk ke dalamnya. Namun sayang banget kondisinya gak begitu terawat dengan baik. Semoga rumah limas ini bisa lebih diperhatikan lagi agar rumah kebanggan wong kito galo ini bisa tetap terjaga dan lestari sampai kapan pun ya.

Beli Oleh-oleh di Fikri Collection

Beli oleh-oleh di Fikri Collection.

Setelah dari museum, kami pun diajak mampir ke toko Fikri Collection. Toko oleh-oleh ini menjual kain khas Palembang yaitu songket, pakaian, dan pernak-pernik khas Palembang. Di sana aku cuma beli gantungan kunci secara sudah beli baju buat oleh-oleh adik sama keponakan di dekat Dermaga kemarin.

Lawang Borotan

Lawang Borotan

Akhirnya di hari terakhir ini bisa melihat lebih dekat destinasi wisata yang sangat bersejarah di Palembang. Obyek wisata yang satu ini merupakan peninggalan Kesultanan Palembang Darussalam dan menjadi bagian dari Benteng Kuto Besak. Lawang Borotan ini dulunya merupakan akses keluar-masuknya Sultan Mahmud Badaruddin ll.

Bangunan yang sangat bersejarah ini dibangun tahun 1780 pada masa pemerintahan Sultan Mahmud Badaruddin l. Sama seperti BKB, Lawang Borotan ini juga dibikin dari campuran putih telur dan batu kapur sebagai semen perekatnya. Mungkin itu ya rahasianya kenapa bangunan ini bisa kokoh berdiri hingga sekarang?

Makan Malam di Lenggok Pusat Oleh-oleh

Pasar Lengok Cafe

Pesan dari Lenggok

Malam itu pun ditutup dengan makan malam di Cafe Lenggok.  Selain makan malam tentunya kami para blogger, vlogger, dan content creator diminta untuk memberikan kritik, saran, dan masukan kepada Dinas Pariwisata Kota Palembang biar Pariwista Palembang lebih baik lagi, dan lebih maju lagi ke depannya.

Dengan demikian berakhir sudah rangkaian kegiatan Musi & Beyond 2020. Kami pun balik ke hotel buat beristirahat dan kembali ke kota masing-masing keesokan harinya. Semoga kelak bisa berkunjung kesana lagi ya Alloh. Aamiin.

Mendem Duren di Pasar Durian Kuto

Pasar Durian Kuto

Sebelum balik ke hotel buat istirahat ternyata masih ada kegiatan lagi yaitu menyantap buah durian sepuasnya di Pasar Durian Kuto. Pokoknya sampai kenyang deh hehehe. Wah, sudah lama aku gak makan durian, begitu ada durian di hadapan langsung aja sikat. Durian yang dijual di sana mempunyai rasa manis sedikit pahit, sudah begitu dagingnya tebal lagi. Puas banget makan durian di sana. Apalagi penjualnya berani memberikan garansi, kalau sampai duriannya gak enak boleh langsung ditukar dengan yang baru. Gak tahu sudah berapa biji aku makan malam itu. Untung gak sampai mabok hehehe.

Kini Pasar Durian Kuto ini sudah menjadi tempat wisata kuliner di Palembang, baik bagi orang Palembang sendiri maupun para wisatawan. Tidak sulit menemukan tempat ini. Lokasinya berada di Ilir Timur ll, Kuto Batu, Palembang dan selalu buka selama 24 jam. Jadi mau datang jam berapa pun bakalan selalu ada. Begitu sampai sana kamu bakalan langsung menemukan kios-kios durian yang berjajar rapi di pinggir jalan.
Famtrip Musi & Beyond 2020 Palembang Hari Terakhir Famtrip Musi & Beyond 2020 Palembang Hari Terakhir Reviewed by Achmad Muttohar on 02.06 Rating: 5

4 komentar:

  1. Kapan ni aku diajakin jalan-jalan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau corona sudah mereda, nanti kita jalan-jalan keliling Indonesia

      Hapus
  2. Wahh Palembang seru banget ya buat di-explore. Pengin lihat Rumah Limas secara langsung deh hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hayuk, kak ke Palembang kalau corona udah sirna. :)

      Hapus

Diberdayakan oleh Blogger.