Camping Ceria Bersama Backpacker Nusantara


Camping merupan sebuah kegiatan yang seru dan mengasyikan. Apalagi camping di tempat terbuka atau alam bebas yang jauh dari keramaian. Kita jadi bisa merasakan bagaimana lebih dekat dengan alam.

Camping bisa dilakukan di mana saja. Di pantai, gunung atau pun di hutan. Nah, ngomong-ngomong soal camping, bulan mei lalu, teman-teman dari komunitas Backpacker Nusantara Regional Joglosemar mengadakan camping di Jurang Jero. Tentu saja aku nggak mau melewatkan acara yang memang sejak lama aku tunggu-tunggu itu. Kalau biasanya aku berangkat dari rumah sendirian, tidak untuk camping kali ini. Aku sukses mengajak beberapa teman satu kampung. Nggak tanggung-tanggung, 10 orang berhasil aku ajak! Hahaha.

Hari H pun tiba. Aku dan teman-teman  yang lain meluncur ke Alun-alun Kota Magelang sekira pukul 11.00 siang. Sesampainya di alun-alun, ternyata teman-teman yang lain belum pada terlihat batang hidungnya. Sembari menunggu kedatangan rombongan dari Jogja dan Semarang, kami pun menghabiskan waktu menunggu dengan berselfie ria. Siang itu, teman-teman rombongan dari Jogja terlambat karena ada sedikit kendala. Kami pun harus rela menunggu agak lama. Tapi tak mengapa. Baru sekitar pukul 14.00 siang, satu persatu teman yang kami tunggu muncul. Saatnya berangkat.

Mampir ke Obyek Wisata Grenjengan Kembar

Sebelum menuju ke lokasi camping di Jurang Jero, terlebih dulu kami digiring ke salah satu spot wisata di daerah Pakis sama Om Haka. Perjalanan yang lumayan jauh itu pun kami tempuh. Kira-kira setengah jam waktu yang dibutuhkan untuk sampai di Curug Grenjengan Kembar. Obyek Wisata ini terletak di Dusun Citran, Desa Munengwarangan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang. Tempatnya cukup mudah dijangkau. Kalau dari Kota Magelang tinggal jalan lurus saja ke arah Kopeng, setelah sampai di daerah Pakis tinggal ikuti plang atau papan petunjuk menuju lokasi.

Untuk bisa sampai ke lokasi air terjun, kami harus memarkirkan motor terlebih dulu lalu berjalan kaki. Tapi nggak perlu khawatir, secara dari parkiran kita cuma jalan sekitar 5-10 menitan doang kok. Lumayan olahraga sedikitlah. Masing-masing orang dikenakan karcis masuk sebesar 5000 rupiah dan parkir 2000 rupiah per motor.

Jalan setapak harus kami lewati untuk sampai ke lokasi. Setelah melalui rumah-rumah warga, kita akan bertemu dengan sebuah jalan di tengah bukit yang seperti terbelah. Serasa berjalan di tengah lorong dengan dinding yang tinggi menjulang di kiri dan kanan. Kemudian kita akan bertemu dengan jalan yang menurun dan berjumpa dengan sebuah jembatan kecil.

Terus saja jalan ke dalam dan kita bakal sampai di hutan yang banyak ditumbuhi oleh pepohonan pinus. Menurut info yang aku dapat, hutan pinus ini dimiliki oleh Perhutani dan masih dalam kawasan Taman Nasional Gunung Merbabu. Oh ya, jika kamu berkunjung ke sana dan lupa tidak membawa bekal makanan atau minuman, tak perlu takut, sebab di beberapa titik terdapat warung-warung kecil yang menjajakan aneka makanan dan minuman. Tapi kudu inget, selama berada di sana, wajib banget buat selalu menjaga kesopanan dan kebersihan ya.

Suara gemericik air pun sudah mulai terdengar, menandakan bahwa curug sudah semakin dekat.




Seperti namanya, Grenjengan Kembar memiliki dua air terjun yang berdekatan, makanya disebut demikian. Tapi, selain dua air terjun tadi, terdapat satu curug lagi di sebelah kanan. Letaknya memang agak jauh dari kedua air terjun sebelumnya.

Suasana yang masih alami dan sejuk serta sepi dari pengunjung membuat siapa pun bakalan betah berlama-lama di sana. Namun, karena kami harus menuju ke Jurang Jero, kami pun harus menyudahi bermain sejuknya air Grenjengan Kembar.

Langit diselimuti oleh awan mendung ketika kami kembali ke parkiran sore itu. Tak lama kemudian, perlahan tapi pasti rintik hujan pun turun. Untuk menunggu hujan reda, kami berteduh di dalam masjid dekat parkiran. Kalau hujannya sampai malam bisa kacau semua rencana kami. Untunglah setelah sabar menunggu cukup lama, hujan pun mulai mereda dan menyisakan gerimis. Meski begitu, kami terpaksa harus menerjangnya dan segera meninggalkan lokasi kami berteduh, karena hari semakin petang.

Gerimis masih mengguyur kami selama perjalanan ke Jurang Jero. Masih ditambah dengan sedikit masalah. Ternyata nggak ada satu pun yang tahu arah jalan menuju Jurang Jero! Terlebih lagi ada beberapa teman kami yang ketinggalan jauh di belakang. Sambil terus berjalan sesekali kami bertanya ke orang-orang sekitar. Kami putuskan untuk istirahat di daerah Talun dan menghubungi Mbok Dar. Mbok Dar pun menyuruh aku supaya menghubungi dan menunggu Mas Guntur biar ditunjukkan jalan. Sebelum melanjutkan perjalanan, kami terlebih dulu diajak ke rumahnya yang ternyata nggak begitu jauh dari tempat kami berteduh, sekadar beristirahat dan menghangatkan badan.

Entahlah malam itu pukul berapa, setelah cukup lama berada di rumah Mas Guntur, kami pun diantar sampai lokasi camping oleh Mas Guntur.

Akhirnya Sampai Juga di Jurang Jero

Setelah perjalanan panjang begitu melelahkan itu, akhirnya kami pun tiba di tempat tujuan kami. Jurang Jero ini berlokasi di daerah Ngargosuko, Kecamatan Srumbung, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah dan termasuk dalam kawasan Taman Nasional Gunung Merapi. Untuk perizinan berkemah di sana kami dikenakan tiket masuk 550.000 rupiah buat rombongan sekitar 50 orang lebih. Rupanya di sana sudah banyak kawan-kawan lain yang telah menunggu, termasuk beberapa teman kami yang sempat tertinggal tadi. Syukurlah kalau begitu.

Ternyata di sana terdapat beberapa fasilitas pendukung yang cukup memadai, seperti mushola, kamar mandi, toilet, dan juga warung. Jurang Jero ini selain sering digunakan untuk camping, pun biasanya digunakan sebagai lintasan penggila olahraga downhill.

Tempat camping kami masih jauh berada di bagian atas. Kami pun kembali harus berjuang sampai ke sana. Bagaimana tidak, jalan yang harus kami lalui untuk sampai ke atas mirip seperti kali asat alias sungai berbatu tanpa air. Butuh kehati-hatian ekstra untuk sampai kesana. Kak Dania yang aku bonceng saja sampai rela turun berkali-kali tiap ketemu sama jalan yang super terjal dan banyak batunya. Untung bisa sampai atas dengan selamat tanpa kurang suatu apa pun.

Tempat buat mendirikan tenda, kayu bakar dan segala sesuatunya semua sudah dipersiapkan. Tenda pun kami dirikan. Setelah tenda berdiri, niat awal ingin langsung tidur pun aku urungkan. Nggak asyik kan, kalau sudah jauh-jauh sampai sana langsung tidur. Perjuangan kami selama perjalanan ke sana bakalan sia-sia dong. Hehehe.

Malam semakin larut, setelah makan bareng rame-rame, kami duduk melingkari api unggun. Bikin kopi, bakar-bakar jagung, mengobrol, bercanda sama teman-teman yang lama nggak ketemu dan teman-teman baru. Suasana malam itu benar-benar syahdu. Pokonya lupa sama yang namanya capek dan ngantuk.


Pagi pun menyapa kami. Nggak tahu berapa lama aku tidur semalam. Aku keluar dari tenda dan menghirup udara pagi Jurang Jero yang segar. Teman-teman yang lain sudah jalan-jalan ke atas lebih dulu. Aku pun bergegas menyusul teman-teman yang lain. Pemandangan di atas cukup menarik. Gunung merapi terlihat jelas berdiri gagah dari sana. Beberapa rumah pohon siap untuk dijadikan tempat berfoto.

Belum puas menikmati keindahan alam lereng Merapi itu, perut ini tidak mau diajak kompromi. Terpaksa aku harus turun ke bawah menuju toilet untuk memenuhi panggilan alam. Kali ini aku memilih jalan yang berbeda dari yang aku lewati semalam. Melewati lintasan downhill! Meski cukup ngeri, tapi lebih mending daripada jalan yang kami lewati semalam. Begitu balik ke atas lagi, teman-teman sudah kembali ke tenda masing-masing. Yah, nggak sempat foto-foto deh.

Sebelum berkemas, kami kembali berkumpul. Duduk bersila melingkari bekas api unggun semalam. Satu per satu kami memperkenalkan diri. Dan di penghujung acara, ada sesi pemotongan kue ulang tahun Backpacker Nusantara. Reg. Joglosemar dan dilanjutkan dengan penanaman pohon bersama.

"Cie ultah. Selamat ultah Backpacker Nusantara."

Yah, sedih rasanya siang itu semua harus berakhir. Kami pun berkemas, meninggalkan Jurang Jero bersama kenangan yang tidak akan pernah terlupakan. Sampai jumpa lagi semuanya. Berikutnya kita mau camping kemana, nih?






Ah, kayaknya segitu  dulu cerita perjalananku. Sudah hampir seribu kata. Hahaha. Tangan juga Sudah pegel. Kalau kamu punya cerita jalan-jalan tulis deh di kotak komentar, nanti aku baca.
Camping Ceria Bersama Backpacker Nusantara Camping Ceria Bersama Backpacker Nusantara Reviewed by Achmad Muttohar on 13.45 Rating: 5

13 komentar:

  1. Seru ya mas, ternyata di Magelang ada tempat samping yang bagus pemandangannya ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Camping maksudnya ��

      Hapus
    2. He'em, mas. Aku juga baru tahu kalo Jurang Jero itu buat camping. Sebelumnya cuma tahu buat downhill sama trail.

      Hapus
  2. Wah acara campingnya seru gitu..


    Salam kenal dr blogger ala2

    BalasHapus
  3. So pasti donk, mas. Kapan2 kalo mau ikut boleh banget lho. Salam kenal kembali.

    BalasHapus
  4. Seru ... banyak banget yang ikut. Tahun depan bakal di adain lagi kan ?? pengen ikutan join

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hayu, kak Cumilebay. Gabung ke grup Backpacker Nusantara aja, kak. ;)

      Hapus
  5. Backpacker identik sama traveling murah murahan tapi tetep menyanangkan :D hehe,.. pengen ikutan kalo jalan jalan kemana mana gitu :3

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hayuk, kak. Asyik lho liburan ala backpacker.

      Hapus
  6. ENak banget kalo ada temennya backpackeran hehe :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pasti dong, kak. Kalo gak ada temennya kurang asyik.

      Hapus
  7. Camping bareng teman2 Backpacker tu seru abis, saya jg pernah camping bareng Backpacker Nusantara Joglosemar
    https://kemana-lagi.com/ke-semarang-ala-bacpacker/

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener banget, mas. Udah beberapa kali saya ikutan. Dan bikin ketagihan. Salam kenal, mas.

      Hapus

Diberdayakan oleh Blogger.