Finally, Karimunjawa

Finally... aku jadi juga ke Karimunjawa, setelah tahun kemarin gagal. Mungkin kata “gagal adalah keberhasilan yang tertunda” itu benar. Okelah kalau begitu, kali ini aku bakal sedikit nyeritain perjalananku ke Karimunjawa. Sebuah pulau yang emang dikenal sebagai pulau eksotis, sehingga menjadikannya sebagai daya tarik yang digemari dan banyak dikunjungi oleh wisatawan lokal maupun mancanegara.

Seperti sebelum-sebelumnya, aku selalu memilih wisata ala backpacker. Perjalananku ke Karimunjawa kali ini berbeda dari tahun kemarin, kalau tahun kemarin rombongan kami banyak banget, sekarang rombongan kami cuma 10 orang. Tiket kapal udah kami pesan jauh-jauh hari sebelumnya. Aku memulai perjalananku dari terminal Kota Magelang. Sebelumnya aku udah janjian sama Mbak Rizza yang tahun kemarin juga ikutan ke Karimunjawa, eh Pualau Panjang maksudnya. Hihi. Baru tahu kalau Mbak Rizza ini ternyata orang Magelang. Petang itu, kami berdua menumpang bus jurusan Semarang, Tri Sakti. Keberangkatan kami memang sudah sore banget, sekira pukul 18.00.

Kurang lebih 3 jam waktu yang kami tempuh, dan sampailah di Semarang. Kami pun turun dan bergegas menemui teman-teman yang lain di pintu masuk Terminal Terboyo, disana sudah menunggu Mas Oki, Mbak Tri Handayani, Mbak Nana, Mas Dwi Cahyo, dan Mbak Lia. Setelah berkenalan kami pun mengobrol, sementara itu sebagian yang lain pergi ke messnya Mas Dwi buat menitipkan sepeda motornya, tinggal aku, Mbak Lia dan Rizza.

Beberapa saat kemudian mereka pun kembali dengan menumpang angkot. Angkot inilah yang nantinya bakal mengantar kami ke Pelabuhan Tanjung Mas. Di dalam angkot sudah ada Mbok Dar juga rupanya. Tinggal nunggu Mas Anjar kalau gitu. Nggak lama kemudian, akhirnya Mas Anjar pun tiba. Langsung deh kami berangkat menuju ke Pelabuhan Tanjung Mas. Sesampainya di sana, kami duduk-duduk dulu di ruang tunggu. Kesempatan itu aku gunakan buat nge-charge hape dan tidur. Hehehe. Sekitar pukul setengah 12 malam, aku dibangunkan, dan kami siap naik ke atas kapal.
Lets go Karimunjawa.
Kalau tahun sebelumnya kami menggunakan kapal Express Bahari yang lebih kecil dari Jepara, kali ini kami memilih naik kapal PELNI, KM. Kelimutu dari Tanjung Mas ke Karimunjawa. Kami mencoba buat menghindari kemungkinan yang terjadi. Kapalnya gede banget, asyik bisa tiduran selama di atas kapal. Hihi.

Perjalanan dari Tanjung Mas ke Karimunjawa memakan waktu sekitar 6 jam. Kapal pun merapat di pelabuhan Karimunjawa, namun karena kapal tak bisa sampai ke dermaga, kami diangkut menggunakan perahu-perahu yang lebih kecil. Sembari menunggu jemputan, kami pun terlebih dahulu mengisi perut dengan menyantap makanan yang telah disediakan.

Akhirnya... aku benar-benar udah sampai di Karimunjawa. Bukan main, seneng bercampur haru rasanya. Dari dermaga kami dijemput dengan mobil sampai ke homestay.

Homestay kami.
Sampai di homestay, kami beristirahat melepas lelah, ada yang mandi, ada pula yang melanjutkan tidur. Rencana jam 09.00 kami akan berangkat untuk snorkeling di beberapa pulau. Aku sih sekalian saja nggak usah mandi, kan nanti juga bakal basah-basahan. Haha.

Pukul 09.00 kami berangkat ke dermaga, menaiki perahu nelayan dan meluncurlah kami ke tempat di mana kami bakal snorkeling nanti. Di atas perahu kami bareng sama bule asal Austria yang hendak menyelam. Wajahnya mirip sama Charles Darwin dengan jenggot putihnya yang tebal. Umurnya sekitar 70an tahun. Usia boleh tua namun semangat 45. Hahaha.

Foto kiriman Achmad Muttohar (@kokoh_ahmad) pada


Oke lanjut lagi, sebelum kami sampai di tempat snorkeling, kami mampir dulu ke Penangkaran Hiu di Pulau Menjangan Besar yang luasnya sekitar 56 hektar. Letaknya sekitar 10 menit sebelah selatan Pulau Karimunjawa.  Tempat ini memiliki 2 kolam penangkaran dengan kelompok-kelompok hiu yang siap untuk diajak bermain dan berfoto. Untuk masuk ke kolam hiu dikenakan biaya Rp 40.000,-/orang. Pantesan nggak ada yang mau turun, cuma aku, Rizza sama Ruri doang.

Awalnya sih, aku kira cuma bayar lima ribu, eh ternyata. Ah entahlah, apa emang aku yang kurang fokus, atau pendengaranku yang udah mulai berkurang. Tapi nggak apalah, kapan lagi bisa main bareng hiu, pasti bakal jadi pengalaman yang tak terlupakan. Ikan hiu yang menjadi favorit buat foto adalah Blacktip Reef Shark yang ukurannya tak terlalu besar. Hiu dewasa rata-rata memiliki panjang 1,6 meter. Meski merupakan predator aktif, namun hiu jenis ini cenderung jarang membahayakan manusia.

Yuk ah lanjut lagi. Puas bermain bersama ikan hiu, kami dibawa ke Pulau Menjangan Kecil buat snorkeling. Katanya, Pulau Menjangan Kecil ini salah satu spot snorkeling yang terbaik. Perjalanan dari Pulau Karimunjawa sekitar 30 menit. Sebelum nyebur jangan lupa pasang pelampung dan segala perlengkapannya ya, dan yang terpenting berdo’a.

Sewaktu kami pada nyebur, cuma Mbok Dar sendiri yang berada di atas perahu. Setelah kami semua nyebur, perahu pun pergi begitu saja. Eh, Mbok Dar mau dibawa kemana tuh? Oh ternyata mau nganter bule Austria tadi buat diving.
Piss.
Nyebur lagi.
Nyelem.
Pokoknya kita puas-puasin snorkelingnya, besok belum tentu kita bisa snorkeling lagi.Ya iyalah orang udah balik ke rumah. Hehe. Jangan lupa juga selalu bawa kamera buat dokumentasi, sebagai kenang-kenangan, dan biar nggak dikira hoax belaka perjalanan kita. Selain itu kan nanti bisa buat pamer di Instagram. Hahaha. Tetapi jangan takut kalau nggak punya kamera under water, biasanya sih sudah disediakan sepaket sama snorkeling

Berenang di laut pake pelampung bagiku kurang nyaman, makanya aku copot aja pelampungnya biar geraknya lebih mudah dan bebas. Keren banget pemandangan di bawah laut. Banyak terumbu karang yang beraneka bentuk dan rupa. Nikmat mana lagi yang kau dustakan. Tetapi, kemarin sedikit banget ikannya yang kami temui.

Akhirnya perahu pun kembali, itu tandanya kami harus bersiap naik ke atas perahu dan menuju ke pulau selanjutnya. Matahari sudah berada tepat di atas kepala, kami pun naik ke atas perahu dan siap menuju pulau berikutnya untuk makan siang. Tujuan kami kali ini adalah Pulau Geleang, sebuah pulau yang tak berpenghuni dengan pasir putih dan air laut yang jernih. Letaknya berada di sebelah barat Pulau Karimunjawa. Di sana rupanya udah banyak wisatawan lain yang singgah dan ber-barbeque ria.Kami pun turun dari perahu. Sambil menunggu ikan bakar kami matang, kami gunakan waktu menunggu buat seru-seruan, bermain di bibir pantai dan foto-foto.

Karena tak sabar menunggu, akhirnya aku coba mengintip ke dapur dan mencicipi ikan bakar yang telah matang. Hehehe.

Ceritanya levitasi. :)
Birunya menyejukkan mata.
Maknyus!
Serbuuu...
Ikan pun telah selesai dibakar, aromanya bikin cacing-cacing di perut semakin beringas saja.Tak lama kemudian tersajilah di hadapan kami nasi, ikan bakar, sambal dan sayur kacang. Langsung aja aku sikat. Hahaha. Menikmati hidangan bersama teman-teman sambil memandang ke arah samudera yang luas membuat nikmat makan yang tiada tara.


Sebelum ninggalin pulau.
Tujuan kami kali ini adalah Pulau Gosong Cemara. Ngapain lagi kalau nggak snorkeling lagi. Selain terumbu karangnya yang indah dan berwarna-warni, di sini juga banyak banget ikannya dengan berbagai jenis. Kalau kita kasih makan roti atau biskuit, nanti mereka bakal dateng ngerubutin kita. Wih seru banget. Seperti sebelumnya, pelampung aku lepas biar bisa bergerak bebas.

Kita bisa menyelam sampai ke bawah loh. Kalau kuat sih. Sempet nemuin nemo dengan anemonnya juga. Mau aku tangkep buat foto bareng, tapi sama bapak-bapaknya yang punya perahu nggak boleh. Yah, sayang banget, kan cuma buat foto doang, pak, bukan mau dibawa pulang.


Ikan aja pada ngerubutin, masa kamu nggak?
Nyelem lagi.
Puas menikmati keindahan alam bawah laut, kami pun kembali naik ke atas perahu. Sebelum kami kembali ke homestay, kami dibawa ke Pulau Tanjung Gelam sekadar buat istirahat. Di sana terdapat warung kopi yang berjajar, siap menyambut kedatangan para wisatawan. Aku pun memesan kopi untuk menghangatkan badan sambil ditemani gorengan yang baru diangkat dari penggorengan.

Segelas kopi dihargai 5 ribu. Yang bikin syok sih harga gorengannya, 2 ribu per biji! Kalau di rumah  udah dapet 4 biji tuh. Maklumlah namanya juga di pulau yang jauh apalagi di tempat wisata.Untungnya waktu itu cuma makan 3, biasanya kalau di rumah suka makan 4 kadang lebih. Soalnya suka nggak tahan lihat gorengan yang masih anget gitu. Hihi.

Sambil menghabiskan kopi dan gorengan di meja, kami mengobrol dengan bule asal Austria yang satu perahu dengan kami tadi, namanya Jerry. Dia udah lama tinggal di Indonesia, tepatnya di daerah Prambanan, Yogyakarta. Dia belajar bahasa Indonesia juga di Jogja. Dari obrolan tersebut, dia cerita kalo dia sudah keliling perairan Indonesia buat diving lho. Dia udah pernah ke Raja Ampat, Bunaken, dan habis ini dia mau ke Bali katanya. Widih, bikin ngiri aja. Masa sih kalah sama bule. Hehe. 

Oh, ya kalau disana jangan buru-buru balik sebelum lihat sunset ya. Ya iyalah, niatnya kan mampir ke Tanjung Gelam buat menyaksikan matahari kembali ke peraduannya. Kita bisa ngambil foto dengan latar belakang matahari tenggelam loh. Hasilnya pasti bakal keren. Tapi, tergantung dari kamera yang digunakan sama tukang fotonya juga sih. Hihi. Kayaknya cukup buat hari itu, kami pun kembali ke perahu dan balik lagi ke homestay.

Kalau lagi di Karimunjawa nggak afdol kalau nggak ke alun-alunnya. Letaknya nggak jauh dari tempat kami menginap. Mungkin karena pas malam minggu, jadi sewaktu kami ke sana, suasana alun-alun begitu rame banget. Di sana kita bisa beli oleh-oleh. Mulai dari kaos, pernak-pernik atau souvenir khas Karimunjawa. Mau wisata kuliner? Tinggal pilih deh aneka sajian makanan yang disuguhkan sesuai selera. Biasanya sih sea food yang jadi favorit. Waktu itu aku cuma lihat-lihat aja sih, alhasil nggak ada oleh-oleh yang aku bawa pulang. Maklum lagi pengiritan. Hihi.

Puas keliling alun-alun yang cuma selebar lapangan bola, kami pun kembali ke homestay lagi. Sebelum tidur isi perut dulu biar tidurnya pules. Bikin mi instant aja deh yang murah dan mudah. Secara, Dwi udah bawa perlengkapan masak dari rumah, mubazir kan kalau nggak kepakai. Perut udah terisi, saatnya atur posisi.Tidur sampai pagi.

Keesokan harinya kami menyewa mobil buat mengunjungi beberapa obyek wisata di Karimunjawa,. Awalnya kami mau ke Bukit Love terus Mangrove, dan lanjut ke Bukit Joko Tuo. Namun karena jam 1 siang kami harus ngejar kapal, kami pun terpaksa cuma mengunjungi satu obyek wisata saja, yakni Bukit Love.

Untuk masuk ke Bukit Love, kami dikenakan tiket masuk 10 ribu/orang  (free softdrink). Dari atas bukit kita bisa melihat pemandangan yang indah. Jernihnya laut dan birunya langit di atasnya terlihat jelas dari atas bukit. Di atas terdapat tulisan LOVE dan Karimunjawa yang sering digunakan buat foto-foto.

Love.
Ketemu ibu-ibu yang kerja di Dinaskertrans Kota Magelang (Baju ungu).

LOVE.
Usai sudah perjalanan kami ke Karimunjawa. Saatnya berkemas, naik ke Kapal dan pulang. Kami naik kapal PELNI, KM. Kelimutu lagi. Dapat jatah makan siang dan makan malam. Lumayan banget pokonya. Rasanya badan udah capek, namun nggak tahu kenapa susah banget tidur.

Karena mata nggak bisa terpejam, sore-sore aku pun keluar dari kamar dan jalan-jalan ke geladak kapal. Sampai diatas, Mas Anjar sama Ruri nyusul. Kami bertiga pun main-main ke ruang kemudi, foto-foto dan tanya-tanya sama petugas kapal. Di kapal kami ketemu lagi sama Jerry yang lagi asyik menghapal bahasa Indonesia. Keren banget nih pak tua, semangat banget belajarnya.
With Jerry.
Pukul tujuh malam kapal tiba di Pelabuhan Tanjung Mas. Di sini kami berpisah sama Mas Anjar dan Rizza karena mereka harus ngejar kereta. Baru tahu juga kalau ternyata Mas Anjar orang Magelang juga. Kami naik angkot lagi sampai messnya Mas Dwi buat ngambil motor.

Aku pulangnya bareng sama Mbok Dar boncengan naik motor. Aku rela deh jadi joki sampai Magelang. Alhamdulillah nggak oleng lagi. Hehehe. Awalnya sih mau gantian, tapi aku kasian sama Mbok Dar. Tanggung. Lagian Mbok Dar juga harus melanjutkan perjalanan naik motor sendirian sampai ke Jogja. Benar-benar wanita perkasa kau, Mbok. Salut aku sama kau. Hehehe.

Ah, masih belom bisa move on sama birunya laut. Masih terbayang kebersamaan yang indah itu. Kami bagai sebuah keluarga kecil yang harmonis dan penuh dengan tawa canda. Susah seneng barenglah pokonya. Bakal kangen kalian semua. Next kemana kita?

Tiket kapal Pelni KM. Kelimutu      : Berangkat Rp 138.000,- (Dapat sarapan)
                                                               Pulang Rp 125.000,- (Dapat makan siang & makan                                                                            malam).
Mobil jemputan dermaga-homestay  : Rp 5000,-/orang.
Homestay 2 hari 1 malam                    : Rp 125.000,- (1 kamar buat 5 orang)
Snorkeling + Guide                              : Rp 150.000,-/orang
Spot Penangkaran Hiu                        : Rp 40.000,-/orang
Bukit Love                                            : Rp 10000,-/orang (free softdring).
Sewa mobil setengah hari                   : Rp 100.000,-

BACA JUGA : Gagal ke Karimunjawa
Finally, Karimunjawa Finally, Karimunjawa Reviewed by Achmad Muttohar on 12.18 Rating: 5

4 komentar:

  1. karimun Jawa Emang mantap bagnet kok :D hehehe..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yoi, mas. Betah banget berlama-lama di sana. Pengin deh ke sana lagi. :D

      Hapus
  2. Karimun jawa alternatif buat yang belum keturutan ke raja ampat :D heheh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, gak kalah kerennya sama Raja Ampat. Belum pernah ke Raja Ampat sih. Hehe.

      Hapus

Jika sudah baca jangan lupa komen dong. Nanti saya kunjungi balik deh. Bebas asal relevan, dan jangan link aktif. Oke. :)

Diberdayakan oleh Blogger.