Menjelajahi Rel Kereta Api "Mati" Sepanjang Sembilan KM


Minggu 13 September 2015 lalu kembali
Komunitas Kota Toea Magelang mengadakan acara bertajuk "Djeladjah Djaloer Spoor #4". Saya pun sangat antusias mengikuti event jelajah kali ini, seperti para peserta lainnya. Karena rute yang akan kami lewati sangatlah menantang. Kami harus berjalan kaki sejauh 9 Kilometer, dari Stasiun Bedono hingga Stasiun Ambarawa.
Baru pertama kali ini saya mengikuti jelajah jalur spoor bersama lebih dari seratus orang peserta.

Sekira pukul enam pagi kami berkumpul di halaman parkir Alfamart, Jln. Pahlawan, Kota Magelang.
Saya berangkat pagi pagi sekali karena saya takut ketinggalan, terlebih lagi Mas Bagus Priyana selaku koordinator Kota Toea Magelang sudah "mengancam", bagi siapa yang telat bakalan ditinggal. :)
Pernah sekali saya mau ikut acara Kota Toea, saya telat dan akhirnya ditinggal. Hehe.

Sesampainya di tempat berkumpul, saya langsung daftar ulang. Ternyata belum banyak peserta yang hadir. Setelah lama menunggu akhirnya kami berangkat menuju Stasiun Bedono dengan mobil angkot yang sudah disediakan.

Foto : Facebook Pak Widoyoko Magelang
Perjalanan dari titik kumpul ke lokasi, yakni Stadiun Bedono memakan waktu kurang lebih 30 menit, dan akhirnya sampai juga di stasiun yang dibangun sejak pemerintahan Hindia Belanda itu.
Kesan pertama saat sampai di Stasiun Bedono, saya benar benar sumringah. Kompleks stasiun terlihat bersih dan terawat, cat temboknya juga terlihat baru. Di area stasiun juga dapat kita jumpai turn table dan pipa pengisi air untuk lokomotif.

Diatas sebuah bukit yang bertuliskan Stasiun Bedono terdapat sebuah tempat penampungan air yang yang dahulu digunakan untuk mengalirkan air ke stasiun untuk mengisi air di lokomotif-lokomotif yang berhenti.

Setelah puas melihat-lihat di Stasiun Bedono kami lanjut berjalan kaki ke arah utara. Nah, perjalanan yang cukup menantang, karena selain kami harus berjalan jauh, kami juga dihadapkan pada cuaca yang sedang panas-panasnya. Saya nggak bawa topi pula. Namun sepanjang perjalanan kami disuguhi pemandangan alam yang cukup indah, mulai dari tegalan, perkebunan kopi hingga persawahan yang membentang luas.
Oh ya, dari Stasiun Bedono akan kita dapati rel gigi yang berguna untuk membantu lokomotif uap saat melewati dataran yang lebih tinggi atu lebih rendah. Selain itu dapat kita jumpai beberapa stoopplaast (pemberhentian untuk mengisi persediaan air).

Rel Gigi (foto : Pak Widoyoko Magelang)

Foto : Pak Widoyoko Magelang
Jalur kerata api ini membelah perbukitan dan beberapa kali kita akan melewati sedikit tanjakan dan turunan serta jalan yang berkelok-kelok.
Sesekali kita juga bakal menjumpai penduduk lokal yang mendorong kereta sederhana buatan tangan sendiri untuk mengangkut kayu bakar atau rumput untuk ternak.

Setelah berjalan sekira setengah jam akhirnya kami sampai di Stasiun Jambu. Stasiun Jambu berada pada ketinggian 479 mdpl. Disini kami beristirahat melepas lelah selama berjalan dari Stasiun Bedono. Di sekitar stasiun terbentang luas hijau persawahan. Angin sepoi-sepoi membelai dengan lembut.

Perjalanan pun kami lanjutkan lagi hingga ke Stasiun Ambarawa. Beberapa kali kami sempatkan buat beristirahat, karena perjalanan dari Stasiun Jambu ke Stasiun Ambarawa memang masih begitu jauh. Rasanya sudah nggak kuat lagi saya berjalan.

Setelah menempuh perjalana sekira tiga jam lebih, kami sampai juga di Stasiun Ambarawa. Perjuangan kami pun berakhir. Meski perjalanan kali ini sangat melelahkan, namun rasa capek dan pegal juga nggak terlalu kerasa, soalnya saya sudah terbiasa lari, lari dari kenyataan. Hehe.






Kami lalu masuk ke dalam dan melihat-lihat koleksi Museum Kereta Api Ambarawa. Harga tiket masuknya Rp 10.000 per orang. Museum ini memiliki koleksi 21 lokomotif uap. Kita juga bisa menaiki kereta wisata. Harga karcis kereta wisata Rp 50.000 per orang. Mahal memang buat ukuran kantong saya. Hehe.

Tapi sayang kemarin kami nggak naik kereta wisatanya. Yah, semoga kapan-kapan bisa naik kereta wisata di Museum Kereta Api Ambarawa. Ada yang mau menemani saya?
Menjelajahi Rel Kereta Api "Mati" Sepanjang Sembilan KM Menjelajahi Rel Kereta Api "Mati" Sepanjang Sembilan KM Reviewed by Achmad Muttohar on 10.50 Rating: 5

8 komentar:

  1. wah, asik bisa naik kereta uap :D jadi pengen coba juga~

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo kereta uapnya mahal, mas. Kudu sewa rombongan. Harga sewanya 2 juta kalo nggak salah. Naik yg kereta wisata saja, mas, bareng saya. :D

      Hapus
  2. Wow, rencana kesana bkm kesampaian juga
    100 peserta banyak sekali ya

    BalasHapus
  3. asik tuh gan kereta uap :3 jadi pengen coba

    BalasHapus
    Balasan
    1. So pasti. Dateng langsung aja ke Museum Kereta Api Ambarawa. Jgn lupa ajak2. :D

      Hapus
  4. Kereta Uap'a keren (y)
    jadi penegen naikin

    BalasHapus
    Balasan
    1. LAngsung ke Ambarawa aja, bro. Kalo kesana jgn lupa ajak2. HAha.

      Hapus

Jika sudah baca jangan lupa komen dong. Nanti saya kunjungi balik deh. Bebas asal relevan, dan jangan link aktif. Oke. :)

Diberdayakan oleh Blogger.