Mendadak Ke Dieng

Hallo guys.. Oke, saya nggak mau basa-basi. Langsung aja ya. Di postingan kali ini saya akan melanjutkan cerita saya mendadak ke Dieng.  Di postingan sebelumnya atau DISINI saya sudah menjabarkan bagaimana saya bisa mendadak ke Dieng.

Setelah menempuh perjalanan kurang-lebih 3 Jam, kami sampai juga di Dieng. Berhubung waktu sudah siang dan takutnya nanti pulang kemaleman, jadi kami cuma mengunjungi dua tempat wisata, Candi Arjuna dan Telogo Warno.





Candi Arjuna





Candi Arjuna merupakan salah satu candi di kompleks percandian Arjuna. Candi Arjuna berlatar belakang agama Hindu. Di dalam kompleks percandian Arjuna ini juga terdapat beberapa candi yang namanya diambil dari tokoh pewayangan Mahabarata, yakni Candi Puntadewa, Candi Srikandi, Candi Sembadra dan juga Candi Semar. Candi Semar sendiri merupakan candi perwara atau candi pelengkap Candi Arjuna. Berbeda dengan Candi Borobudur atau Candi Prambanan ukuran candi-candi di kompleks Percandian Arjuna ini tergolong kecil, hanya berukuran 6x6 meter. Konon Candi Arjuna adalah candi tertua di Pulau Jawa.

Waktu itu kami nggak dikenakan tiket masuk, cuma bayar parkir doang 2.000,- perak. Tapi, ada juga yang bilang bayar 10.000,- rupiah. Entahlah, pokoknya waktu itu saya nggak bayar.

Di sekitar candi dimanfaatkan oleh penduduk sekitar untuk bercocok tanam. Selain kentang dan sayur-sayuran juga banyak sekali ditanami bunga-bunga.

Puas berkeliling di area candi dan tentu saja foto-foto, kami pun melanjutkan perjalanan menuju Telogo Warno.

Telogo Warno dan Pengilon





Jarak antara Candi Arjuna dan Telogo Warno nggak terlalu jauh. Hanya butuh waktu beberapa menit sampai deh di Telogo Warno. Nah, kalo di Telogo Warno sudah pasti kita bakal dikenakan tiket masuk. Tiketnya cukup murah kok, cuma 5.000,- rupiah saja. Dinamakan demikian karena airnya yang sering berubah-ubah warna, dari hijau dan kuning kadang berubah jadi seperti pelangi, mungkin bisa juga disebut "telaga labil". Bhehehe.

Fenomena ini terjadi karena Telaga Warna mengandung sulfur sehingga pas air telaga terkena sinar matahari akan nampak berwarna-warni.

Tempatnya keren banget, enak banget buat ngadem. Telogo Warno ini dikelilingi oleh bukit-bukit yang menambah keindahan.  Lewat jalanan di pinggir telaga kita bisa jalan-jalan memasuki area Telogo Warno. Tempatnya emang asyik banget kalo buat hiking. Saya pun betah kalo harus berlama-lama disini.

Di Telogo Warno juga terdapat beberapa gua, seperti Gua Semar, Gua Sumur dan Gua Jaran. Selain itu ada pula batu tulis. Di depan batu tulis tersebut terdapat patung Patih Gajah Mada. 


Begitu masuk ke area ini suasananya begitu mistis. Bau dupa yang menusuk hidung dan suasana yang sunyi juga menambah kesan mistis tempat itu.

Sebenernya banyak banget tempat-tempat keren yang wajib dikunjungi di dataran tinggi Dieng. Salah satunya adalah Kawah Sikidang. Namun karena matahari sudah Semakin condong ke barat, maka kami memutuskan untuk pulang. Semakin sore udara Dieng semakin dingin. Sebelum pulang saya pun mengenakan jaket yang sedari tadi saya taruh didalam tas, daripada saya nanti masuk angin.

Benar saja belum juga sampai Kota Wonosobo, gerimis pun turun dan diausul oleh hujan yang semakin lama semakin deras.

Nah, kalo di Dieng jangan lupa beli oleh-oleh khas Dieng, yakni manisan carica yang terbuat dari carica atau pepaya gunung. Saya sendiri waktu itu nggak beli oleh-oleh soalnya teman saya yang didepan udah ngebut duluan. Mungkin karena sudah kedinginan dan ingin cepat-cepat sampai rumah.

Ohya, tanggal 31 Juli hingga 2 Agustus mendatang di dataran tinggi Dieng bakal ada acara tahunan, Dieng Culture Festival yang menyajikan acara tahunan seperti ruwatan atau pemotongan rambut gimbal, pesta kembang api dan masih banyak lagi. Sayang banget kan kalo sampai dilewatkan.

Home sweet home, 31 Mei 2015.

Mendadak Ke Dieng Mendadak Ke Dieng Reviewed by Achmad Muttohar on 06.10 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Jika sudah baca jangan lupa komen dong. Nanti saya kunjungi balik deh. Bebas asal relevan, dan jangan link aktif. Oke. :)

Diberdayakan oleh Blogger.